Jumat, 17 Juni 2011

Feedback dan Problem Solving


FEEDBACK DAN PROBLEM SOLVING
Dani Setiawan, S.Pd

A.    PENDAHULUAN
Persoalan pendidikan adalah sesuatu yang tak pernah habis untuk dibahas, selalu ada saja ada hal-hal yang dapat diperbincangkan utamanya dari segi pelaksanaan pembelajaran. Ada satu hal yang dalam proses pendidikan di sekolah yang merupakan satu sisi terpenting untuk mendapatkan hasil maksimal dari prestasi belajar siswa serta menumbuhkan sikap positif terhadap proses belajarnya yakni persoalan feedback (umpan balik) dalam pembelajaran. Dalam ilmu komunikasi umpan balik dianggap sebagai faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan pesan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan. Hal tersebut disebabkan karena umpan balik adalah sebagai hakim atau pos terakhir yang dapat memutuskan apakah komunikasi berlangsung efektif atau tidak. Umpan balik kaitannya dalam proses pembelajaran adalah bentuk komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan dirinya sendiri yang terintegrasi secara menyeluruh. Dari pesan yang disampaikan maka umpan balik-lah yang menjadi ukuran keberhasilan dari proses komunikasi yang terjadi.
Pada saat siswa sudah mampu melaksanakan tugas gerak dan memiliki pemahaman tentang apa yang sudah dilakukannya, maka pada saat itu guru tidak
harus memberikan tantangan, sebab siswa telah belajar sesuatu yang sesuai dengan tujuan dan harapan guru. Sebagai penggantinya, pada saat itu guru dapat  memberikan umpan balik (feedback) yaitu sebagai salah satu upaya  mengobservasi siswa berkaitan dengan bagaimana ia melakukan aktivitas serta  apa yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan siswa itu (Adang
Suherman, 1998:124).
Indikator-indikator yang termuat dalam komunikasi yang efektif seperti  uraian di atas sesungguhnya merupakan proses pemberian feedback atau umpan balik yang dilakukan guru selama proses pembelajaran. Hal itu dilakukan sebaiknya tidak saja dalam kegiatan belajar mengajar di kelas atau di lapangan melainkan ketika aktivitas belajar telah selesai dilaksanakan. Misalnya di sela-sela waktu istirahat, guru biasanya melakukan percakapan dengan siswa sambil mengingatkan siswa untuk terus berlatih atau aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler
sesuai dengan cabang olahraga yang dipilih siswa. Secara tidak langsung, peristiwa komunikasi tersebut dapat menjadi umpan balik (feedback)  bagi siswa
untuk selalu diingatkan akan keharusannya berlatih. Seperti halnya dalam konteks
kepelatihan, siswa sebagai atlet membutuhkan umpan balik. Harsono (1988:87) mengemukakan “Atlet membutuhkan umpan balik untuk mengetahui bagaimana hasil-hasil latihannya, dan apa yang masih harus diperhatikan dan ditekankan dalam latihan-latihan untuk kemajuan prestasinya.”   Hal ini semakin menjelaskan
bahwa pemberian umpan balik benar-benar penting dilaksanakan bukan hanya dalam konteks pembelajaran (pendidikan) melainkan juga dalam konteks pelatihan olahraga prestasi.
Kebermaknaan umpan balik dalam kegiatan pembelajaran penjas akan mampu terwujud apabila guru penjas telah benar-benar memahami pengertian (konsep) umpan balik, fungsi umpan balik, jenis-jenis umpan balik, dan siapa yang harus dengan cepat dan tepat diberikan umpan balik selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan.  Dengan memahami konsep-konsep ini maka pemberian umpan balik akan tepat sasaran.  Pemberian umpan balik tidak malah penghambat kegiatan belajar siswa melainkan semakin meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran penjas yang sedang dilaksanakan.
Salah satu kunci utama penyelenggaraan pembelajaran pendidikan jasmani terletak pada keterlibatan atau partisipasi aktif anak melalui aktivitas fisik yang diberikan guru. Partisipasi aktif  yang dimaksud adalah suatu kondisi atau keadaan partisipasi di mana sebanyak mungkin siswa, secara keseluruhan terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkesinambungan atau pengalaman-pengalaman belajar yang drencanakan dan diberikan oleh guru (Dougherty dan Bonnano, 1979: 56). Dalam hal ini, guru harus memahami dan menyadari waktu yang dialokasikan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana dan tujuan yang ingin dicapai.
Pembelajaran pendidikan jasmani harus berorientasi pada keberhasian setiap anak. Pendekatan pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara yang baik bila digunakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi maksimum, memberikan keleluasaan gerak yang memadai dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan. Suatu aktivitas yang memerlukan satu jawaban atau respons hendaknya dihindarkan, karena anak akan memeiliki kecenderungan menjadi jauh atau bosan jika anak tidak mampu melakukannya. Pendekatan pemecahan masalah membantu anak memiliki kepercayaan diri, sehingga memacu anak mencapai hasil yang maksimal.

B.     FEED BACK
1.      Pengertian dan Manfaat Umpan Balik (Feed Back)
Disekolah guru berperan sebagai perancang atau perencana, pengelola pengajaran dan pengelola hasil pembelajaran siswa. Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik , yakni sebagai guru. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru, ia harus menunjukkan perilaku yang layak (teladan bagi siswa). Pengajar perlu mengetahui sejauh mana materi pembelajaran yang telah dijelaskan dapat dipahami oleh siswa, karena hal tersebut menjadi tolak ukur untuk dapat melanjutkan pelajaran pada materi pembelajaran berikutnya. Maka dari itu pengajar harus jeli menilai pemahaman siswa sehingga siswa dapat betul-betul memahami materi pelajaran yang diberikan.  Segala hal yang ternyata belum dimengerti secara jelas oleh siswa hendaknya diulangi lagi pada kesempatan berikutnya. Cara lain yang lebih baik dan akan memberi keterangan lebih pasti adalah mengadakan ujian singkat. Serupa dengan yang disebut kuis di akhir jam pelajaran. Dengan ujian singkat itu guru akan mengetahui sejauh mana materi yang telah diterangkan dapat terserap oleh siswa. Sering kali cara demikian tidak mungkin terlaksana, karena memerlukan waktu cukup banyak. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat, karena itu salah satu cara memancing apresiasi siswa. Umpan balik tidak sama dengan penilaian. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari informasi sampai dimana murid mengerti bahan yang telah dibahas. Selain itu murid juga diberi kesempatan untuk menelaah dirinya sampai di mana mereka mengerti bahan tersebut. Sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap.
Umpan balik adalah perilaku guru untuk membantu setiap siswa yang  mengalami kesulitan belajar secara individu dengan cara menanggapi hasil kerja siswa sehingga lebih menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Umpan balik yang dilakukan guru antara lain memberikan penjelasan terhadap kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Umpan balik adalah koreksi terhadap jawaban-jawaban atas respon siswa dalam mengerjakan tes atau latihan. Umpan balik adalah suatu
proses dengan hasil atau akibat dari suatu respon untuk mengontrolnya.
Menurut Rusli Lutan (1988:300), “Umpan balik adalah pengetahuan yang diperoleh berkenaan dengan sesuatu tugas, perbuatan atau respons yang telah diberikan”. 
Dalam konteks pembelajaran pendidikan jasmani, Adang Suherman (1998:124) mengemukakan, “Umpan balik (feedback) yaitu guru mengobservasi siswa secara individu dan menilai bagaimana siswa melakukan aktivitas serta apa yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan siswa itu”. 
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa umpan balik (feedback) adalah infromasi yang berkenaan dengan kemampuan siswa dan guru guna lebih meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh keduanya, baik dalam konteks pembelajaran maupun dalam pelatihan olahraga.  Infromasi yang dimasud adalah berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan, bagaimana hasilnya, dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
Manfaat umpan balik bagi guru, dapat dipergunakan dalam mengambil keputusan, apakah mata pelajaran yang telah dilaksanakan perlu diperbaiki atau dilanjutkan (Cooper, 1982:8) dan bagi siswa akan meningkatkan prestasi belajar secara konsisten (Blocks, J.H., 1971:36)
Beberapa keuntungan penggunaan umpan balik menurut Adang Suherman (1998:124) antara lain sebagai berikut:
1.      Mendorong siswa untuk terus berlatih. Proses pemberian umpan balik kepada  siswa secara tidak langsung akan memberi tahu siswa bahwa latihannya selalu dilihat dan diperhatikan oleh gurunya.
2.      Mencerminkan perilaku guru yang efektif.  Dalam prosesnya, umpan balikhanya akan diperoleh apabila guru aktif selama kegiatan pembelajaran. Guru harus selalu memperhatikan siswa, bergerak untuk memantau dan mengamati aktivitas belajar yang dilakukan oleh setiap siswa di sekitar tempat belajar (berlatih).
3.      Membantu siswa untuk menilai penampilan (kemampuan) yang tidak bisa dilihat dan dirasakannya sendiri.
4.      Mendorong guru untuk menilai seberapa relevansi antara aspek-aspek pembenelajaran dengan tingkat kemampuan siswa dalam menguasai tugas gerak(bahan ajar) seperti yang diinginkan oleh gurunya.

2.      Penerapan Feed Back
Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam menunjang agar proses umpan balik dapat berlangsung efektif, yaitu :

a.       Pengenalan sasaran yang dikehendaki

Umpan balik diberikan sebagai respons atas kinerja siswa. Kinerja siswa adalah kesanggupan siswa untuk dapat menunjukkan penguasaannya atas berbagai tujuan pembelajarannya. Guru harus dapat merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai secara jelas dan dapat mengkomunikasikannya pada awal pembelajaran, baik tentang wilayah materi, indikator kurikuler maupun penguasaan tujuan.
Salah satu metode yang cukup efektif untuk memastikan bahwa siswa memahami tujuan pembelajarannya yaitu dengan cara melibatkan mereka dalam menetapkan kriteria keberhasilan yang bisa dilihat atau didengar. Misalnya, guru dapat memperlihatkan beberapa contoh produk sebagai tujuan pembelajaran yang patut ditiru oleh para siswa, menunjukkan kalimat-kalimat yang benar dengan ditulis menggunakan huruf kapital, kesimpulan yang diambil dari data, penyajian tabel atau grafik dan sejenisnya. 
Apabila para siswa telah dapat memahami tentang kriteria keberhasilan pembelajarannya, mereka akan terbantu untuk mengarahkan belajarnya dan mereka akan lebih mampu untuk melaksanakan proses pembelajarannnya. Selain memberikan pemahaman yang jelas tentang tujuan pembelajaran, guru juga perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami indikator dari tingkat penguasaan tujuan pembelajarannya, baik secara lisan, tertulis maupun dalam bentuk lainnya.
b.      Bukti mengenai posisi saat ini
Istilah bukti di sini menunjuk kepada informasi atau fakta tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, khusunya tentang sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai dan sejauhmana tujuan pembelajaran itu belum tercapai. Grant Wiggin mengemukakan bahwa umpan balik bukanlah tentang pemberian pujian atau celaan, persetujuan atau ketidaksetujuan, tetapi sebagai usaha untuk memberikan nilai atau makna. Umpan balik pada dasarnya bersifat netral yang menggambarkan apa yang telah dilakukan dan tidak dilakukan siswa. Selain itu, bahwa umpan balik juga harus bersifat obyektif, deskriptif dan disampaikan pada waktu yang tepat yakni pada saat tujuan pembelajaran masih segar dalam benak siswa.
Salah satu cara pemberian umpan balik yang cukup bermakna yaitu dengan membandingkan produk siswa dengan kriteria keberhasilan telah telah dikomunikasikan sebelumnya. Contoh sederhana pemberian umpan balik yaitu dengan membuat sebuah format tentang Daftar Kriteria Keberhasilan. Dalam daftar tersebut, guru dapat memberikan tanda + (plus) untuk menunjukkan tentang kriteria yang telah berhasil dipenuhi siswa dan memberikan catatan tertentu untuk yang belum dipenuhinya. 
Salah satu cara pemberian umpan balik yang cukup bermakna yaitu dengan membandingkan produk siswa dengan kriteria keberhasilan telah telah dikomunikasikan sebelumnya. Contoh sederhana pemberian umpan balik yaitu dengan membuat sebuah format tentang Daftar Kriteria Keberhasilan. Dalam daftar tersebut, guru dapat memberikan tanda + (plus) untuk menunjukkan tentang kriteria yang telah berhasil dipenuhi siswa dan memberikan catatan tertentu untuk yang belum dipenuhinya.


c.      Beberapa pemahaman mengenai cara untuk menutup kesenjangan antara keduanya
Umpan balik yang efektif yaitu harus dapat memberikan bimbingan kepada setiap siswa tentang bagaimana melakukan perbaikan. Black dan Wiliam menegaskan bahwa setiap siswa harus diberi bantuan dan kesempatan untuk melakukan perbaikan. Guru tidak hanya memberikan umpan balik yang mencerminkan tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran siswanya, tetapi juga harus dapat memberikan strategi dan tips tentang cara yang lebih efektif untuk mencapai tujuan, serta kesempatan untuk menerapkan umpan balik yang diterimanya. 
Wiggins meyakini bahwa melalui siklus umpan balik ini dapat menghasilkan keunggulan kinerja siswa. Oleh karena itu, siswa harus senantiasa memiliki akses rutin terhadap kriteria dan standar-standar tugas yang harus dituntaskannya; mereka juga harus memperoleh umpan balik dalam upaya menyelesaikan tugas-tugasnya, mereka harus memiliki kesempatan untuk memanfaatkan umpan balik untuk memperbaiki kerjanya serta mengevaluasi kembali terhadap standar
     
C.    PROBLEM SOLVING
1.      Makna Problem Solving

Pemecahan masalah ( problem solving ) didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil hasil yang diinginkan ( Hunsaker,2005 ).
Mu’Qodin ( 2002 ) mengatakan bahwa problem solving adalah merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang dicapai dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
Berdasarkan dari beberapa definisi problem solving yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa problem solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran.
            Dalam ruang lingkup yang luas, problem solving ini meliputi guided discovery, convergent problem solving, dan divergent problem solving (Pica, 1995).
a.    Guided discovery, guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa sebagai cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah. Keseluruhan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menggiring siswa untuk menemukan jawaban terhadap masalah pokok yang dibahas.
b.    Convergent problem solving, atau biasa disebut juga discovery dan inquiry, ditandai oleh adanya satu atau banyak jawaban yang benar terhadap masalah yang diajukan oleh gurunya. Siswa terlibat secara aktif dalam penggunaan alasan-alasan logis, pemikiran-pemikiran yang kritis dan “trial and error”sebagai upaya untuk memecahkan masalah dihadapi.
c.    Divergent problem solving, atau biasa disebut juda explorationditandai dengan tidak adanya istilah jawaban benar dan salah, sebagai penggantinya, variasi atau banyak macam jawaban yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.  

2.      Bentuk Problem Solving
Ada beberapa bentuk dalam problem solving menurut Chang, D’Zurilla dan Sanna (2004), yaitu :
a) Rational Problem Solving
Sebuah bentuk problem solving yang konstruktif yang didefinisikan seperti rasional, berunding dan aplikasi yang sistematik dalam kemampuan menyelesaikan masalah. Model ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu :
     1) Identifikasi Masalah
Problem solver memncoba mengelompokkan dan mengerti masalah yang dihadapi  dengan mengumpulkan banyak spesifikasi dan fakta konkrit tentang kemungkinan masalah, mengidentifikasi permintaan, rintangan dan tujuan yang realistik dalam menyelesaikan masalah.
2) Mencari Solusi Alternatif
Fokus pada tujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencoba untuk mengidentifikasi banyak solusi yang memungkinkan termasuk yang konvensional.
     3) Mengambil Keputusan
Problem solvers mengantisipasi terhadap keputusannya dalam solusi yang berbeda, mempertimbangkan, membandingkan dan kemudian memilih yang terbaik atau solusi yang efektif yang paling berpotensial.
     4) Mengimplementasi Solusi dan Pembuktian
Seseorang harus berhati-hati dalam menerima dan mengevaluasi solusi yang menjadi pilihan setelah mencoba untuk melaksanakan solusi tersebut kedalam situasi masalah dalam kehidupan nyata.
b). Mengabaikan Kata Hati
Ini adalah salah satu pola karakteristik penyelesaian masalah yang difungsional dalam usaha aktif yang digunakan dalam strategi menyelesaikan masalah dan tekhniknya, tetapi usaha ini menyempit, implosif, berhati-hati, sangat cepat, dan tidak lengkap.


c) Bentuk Menghindari Masalah
Bentuk ini adalah salah satu karakteristik penyelesaian masalah yang disfungsional berupa penundaan, pasif atau tidak melakukan apapun dan ketergantungan.
3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Problem Solving
Menurut Rahmat (2001) terdapat 4 faktor yang mempengaruhi proses dalam problem solving yaitu motivasi, kepercayaan dan sikap yang salah, kebiasaan dan emosi.
a) Motivasi
Motivasi yang rendah akan mengalihkan perhatian, sedangkan motivasi yang tinggi akan membatasi fleksibilitas.
b) Kepercayaan dan Sikap yang Salah
Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan kekayaan material, kita akan mengalami kesulitan ketika memecahkan penderitaan batin kita. Kerangka rujukan yang tidak cermat menghambat efektifitas pemecahan masalah.
c) Kebiasaan
Kecenderungan untuk mempertahankan pola pikir tertentu atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas menghambat pemecahan masalah yang efisien. Ini menimbulkan pemikiran yang kaku ( rigid mental set ), lawan dari pemikiran yang fleksibel ( flexible mental set )
d) Emosi
Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar terlibat secara emosional. Emosi ini mewarnai cara berpikir kita sebagai manusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah kita menjadi silit untuk berpikir efisien.
Gambar 1. Problem Solving Process
Sumber : http://sss.usf.edu/504tutorial/Module2/CollabProbSolving.html









D.    KESIMPULAN
Telah banyak hasil penelitian dari beberapa pakar yang menggambarkan korelasi positif antara keselarasan prestasi belajar siswa dengan penggunaan umpan balik yang efektif. Ketika umpan balik secara tepat dan berkesinambungan diterapkan maka ternyata sebagian besar siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya sampai di atas 19,8% (Elly Amir, blog pendidikan Akhmad Sudrajat).
Feedback merupakan aspek yang penting diberikan terhadap siswa dalam proses belajar mengajar, agar siswa dapat mengetahui sejauh mana kebenaran mengenai pemahamannya, apakah sudah betul atau masih perlu dikoreksi. Feed back diberikan terhadap siswa sesuai dengan kebutuhannya. Lalu siswa mana yang perlu diberikan feed back.
1.      Siswa yang kurang saja (susah menguasai bahan ajar atau tugas gerak)
Maksudnya adalah siswa yang kurang cepat atau mengalami kesulitan dalam setiap melaksanakan tugas gerak.  Pemberian umpan balik yang tepat akan mengarahkan siswa untuk memudahkannya dalam melaksanakan suatu tugas gerak.
2.      Siswa yang pintar atau terampil saja
Sebaiknya setiap siswa harus memperoleh umpan balik secara adil dan merata disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang sudah dimilikinya.  Sangatlah keliru apabila umpan balik lebih dominan diberikan kepada siswa yang terampil saja melalui pemberian penghargaan yang bertubi-tubi.


3.      Siswa yang tampan atau cantik saja
Bagaimanapun guru penjas adalah manusia biasa yang menyukai siswa yang bersih, tampan atau cantik.  Dengan meminimalisir perasaan suka dan tidak suka secara fisik kepada setiap siswa, guru penjas akan mampu memberikan umpan balik secara adil dan tepat sasaran.  
4.      Siswa perempuan saja
Karena persepsi yang keliru yang menilai perempuan adalah makhluk yang lebih lemah dari laki-laki, maka ada kecenderungan umpan balik lebih dominan diberikan kepada siswa perempuan saja.  
5.      Siswa laki-laki saja
Asumsi yang keliru juga apabila umpan balik hanya untuk siswa laki-laki saja karena hal itu sebagai antisipasi agar mereka disiplin dan mudah diatur.  Sebab ada pendapat yang mengatakan bahwa siswa laki-laki relatif menjadi pembangkang, susah diatur, dan berperilaku tidak sesuai dengan harapan guru.  Maka sebagai pencegahannya adalah dengan memberikan umpan balik secara dominan kepada siswa laki-laki.
Tahap berikutnya adalah menanyakan pada diri sendiri perihal:
1.      Siapa (siswa) yang tidak menerima umpan balik?
2.      Apakah saya cenderung menggunakan salah satu jenis umpan balik saja?
3.      Apakah saya cenderung memberi umpan balik pada siswa tertentu saja?
4.      Apakah saya menerapkan jenis-jenis umpan balik dengan bervariasi?
5.      Apakah saya puas dengan proporsi umpan balik yang sudah diberikan kepada siswa?
Problem solving adalah salah satu kemampuan yang konon membedakan manusia dari hewan. Meskipun banyak makhluk bisa menyelesaikan masalah, dan beberapa bahkan menggunakan alat-alat, manusia adalah makhluk yang hanya menciptakan teknologi baru untuk menyelesaikan masalah.Selama ribuan tahun manusia hanya mampu bepergian ke mana saja dengan berjalan kaki. Kemudian seseorang naik di atas kuda, dan menyadari bahwa kuda berlari lebih cepat dari manusia berlan kaki, dan mampu pergi ke suatu tempat lebih cepat.
Salah satu aspek yang paling menarik dari kehidupan adalah susunan dari pilihan yang kita miliki setiap hari. Ketika kita dihadapkan dengan jenis keputusan, bisa saja kita dihadapkan pada situasi yang sulit untuk memutuskan mana pilihan yang terbaik, dan kita mungkin akan terganggu oleh keraguan. Kita mungkin dipaksa untuk memilih antara dua pilihan sama baiknya, atau mungkin kita harus memilih antara dua pilihan yang keduanya memiliki kelemahan. Seperti banyaknya cara bagi guru penjas untuk mengajar kepada siswa, apa yang akan dipelajari, kapan, dalam kondisi bagaimana, bagaimana mempelajarinya, keriteria apa yang digunakan, dll. Seorang guru yang baik tentunya harus mampu mengajar dalam berbagai gaya untuk memenuhi berbagai perbedaan cara belajar anak didiknya sehingga anak didik dapat belajar secara optimal.
            Problem solving dalam penjas pada dasarnya  adalah siswa mampu memecahkan masalah baik secara individu maupun secara kelompok. Problem solving juga memberikan kesempatanuntuk mengembangkan kemampuan fisik dan cognitive siswa secara bersamaan.

DAFTAR PUSTAKA

Adang Suherman (2009), Revitalisasi Pengajaran Dalam Pendidikan Jasmani,
Bintang Warli Artika, Bandung.

Graham, G, Parker, M; dan Holt-Hale, S. (1995), Children Moving, Mountain
View, CA:Mayfield.

Harsono (1988), Coaching Dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching,
Tambak Kusuma.

Mosston, M, dan Ashwort, S. (1994), Teaching Physical Educatons For
Elementary School Children, Edisi Sepuluh, Macmillan Publishing Company, New York Oxford, Sinagpore, Sidney.

Siedentop, Daryl. (1991), Developing Teaching Skill In Physical Education.
Edisi Ketiga, Palo Alto, CA:Mayfield.

Elly Amir, blog pendidikan Akhmad Sudrajat.

Problem Solving Process, http://sss.usf.edu/504tutorial/Module2/CollabProbSolving.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar